Ketika Traveler ditanya, daerah wisata yang sudah pernah Traveler pergi mungkin sebagian besar Traveler akan menjawab Pulau Dewata Bali. Bahkan mungkin ada yang sudah mengalokasikan dana berlibur rutin setiap beberapa bulan sekali ke Bali. Begitu seringnya Traveler ke Bali namun apakah Traveler sudah mengetahui hal mendasar berupa tata krama selama berada di bali?

Jika berbicara tentang pulau Dewata atau bali yang sudah multikultur dengan berbagai budaya tetap saja Bali masih memegang teguh tradisi budaya dan religinya. Melakukan hal-hal berupa penghormatan justru akan membuat liburan Traveler lebih berkesan dan berbeda dari liburan biasanya. Tata krama diperlukan karena Bali memiliki begitu banyak tempat wisata yang masih dianggap tempat yang disucikan dan dianggap keramat oleh masyarakat adat Bali seperti Pura yakni tempat ibadah umat Hindhu.

Tidak jarang kita menjumpai wisatawan yang kurang memahami kearifan budaya lokal dan nilai tata krama ketika berkunjung ke suatu daerah. Seperti sebuah pribahasa lama “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung“. Pribahasa ini memaknai bahwa sebaiknya kita menjadi orang yang rendah hati dimana pun kita berada. Layaknya sopan santun ketika berkunjung ke rumah orang lain, kita pun berharap orang lain akan melakukan hal serupa ketika berkunjung ke rumah kita.

Berikut adalah beberapa hal penting yang wajib kita ketahui sebagai apresiasi dan penghargaan terhadap tempat wisata yang kita kunjungi saat berlibur di Bali.

Sesajen, Banten atau Canang

Traveler akan menemui sesajen atau terkadang disebut banten atau canang. Walaupun secara mendalam banten dan canang memiliki makna berbeda, tetapi kita tidak akan membelajari hal ini terlalu detail. Cukup pengetahuan tentangnya. Menurut keyakinan masyarakat bali sesajen merupakan persembahan berupa bunga dan dupa yang ditujukan untuk penghormatan kepada alam semesta agar seimbang dan damai. Persembahan ini dapat ditemui di berbagai Pura, tempat sembahyang kecil di rumah-rumah dan sepanjang jalan besar dan kecil.

Baca Juga:  Tradisi hidup suku baduy di Jawa Barat tanpa moderenisasi

Sering menjadi pertanyaan apa yang terjadi jika terinjak? Tidak perlu merasa terlalu khawatir, karena itu tidak masalah jika terjadi secara tidak sengaja. Tetapi jika Traveler melihat sesajen yang tergeletak di jalan, hormati dengan menghindari tanpa melangkahi. Dengan melakukan hal ini saja, Traveler sudah melakukan penghormatan yang bernilai.

Kain dan Selendang

Selama berkunjung ke Bali tidak ada salahnya untuk membawa dan memiliki selendang sendiri. Jika belum memilikinya, selendang dan sarung aneka motif cantik bisa ditemui di Bali. Keduanya wajib berada di tas Traveler terutama jika ingin berkunjung ke tempat-tempat yang menurut kepercayaan umat Bali adalah suci. Beberapa tempat wisata yang dianggap suci bisa saja tidak memiliki penyewaan kain dan selendang karena bukan tempat yang “umum“ dikunjungi.

Hari raya besar Bali

Penting sekali untuk mengetahui hari-hari penting di Bali sebelum kita merencanakan liburan panjang ke Bali. Kalender Bali bisa Traveler browsing di internet atau download di ponsel Traveler. Jangan sampai Traveler berkunjung di Bali saat ada perayaan besar-besaran sehingga beberapa tempat wisata yang ingin Traveler kunjungi ditutup.

Selain untuk menghindari berlibur di waktu yang salah, Traveler yang memiliki hobi foto dokumentasi bisa juga melihat beberapa upacara yang bisa menjadi bahan foto. Namun tetap ingat akan tata kram kesopanan agar tidak mengganggu jalannya upacara atau ibadah.

Baca Juga:  Kota Bandung, asal-usul, sejarah dan cerita tangkuban perahu

Upacara atau Sembayang

Berkunjung dan memotret aktivitas umat di pura-pura yang ada di pulau Bali memang terkesan eksotis. Foto-foto yang dihasilkan penuh dengna dinamika aneka warna sesajen yang tihaturkan umat hingga warna-warni kebaya perempuan dan saput para lelaki yang mereka kenakan saat datang ke pura. Ingatlah bawah masyarakat adat bali datang ke pura untuk beribadah. Sehingga, Traveler perlu menjaga sopan santun saat berkunjung ke pura. Perhatikan situasi dan tanyakan kepada masyarakat sekitar apakah kita boleh masuk atau tidak.

Tempat-tempat yang dianggap keramat

Banyak tempat wisata di bali dengan tema petualangan alam, namun ada beberapa hal yang perlu diketahui bahwa Bali memiliki kepercayaan tentang “penunggu“ dari suatu tempat, jadi akan sangat baik jika tetap menjaga kesopanan meski tidak ada penjaga manusia ke tempat yang masih sepi pengunjung.

Berperilaku sopan bisa seperti tidak mengucap kata-kata kotor, melakukan hal yang tidak sopan, buang hajat besar dan kecil sembarangan dan sebagainya. Terutama tempat wisata berupa mata air, sungai atau danau, usahakan tidak membuang sampah sembarangan atau mengotori karena pada ajaran agama Hindhu yang juga agama thirha, menaru posisi air sangat tinggi dalam ritual dan upacara-upacaranya.

Larangan-Larangan saat di pulau Bali

Saat Traveler berlibur di pulau dewata, hal-hal berupa larangan-larangan sepertinya perlu diketahui untuk kenyamanan berwisata, beberapa hal larangan-larangan tersebut dan hal lain yang perlu diperhatikan saat perjalanan wisata tour antara lain;

  • Pada saat perayaan hari raya Nyepi setiap orang dilarang untuk menghidupkan lampu, keluar rumah atau bepergian, terkecuali untuk hal-hal yang bersifat darurat
  • Khusus perempuan yang sedang mengalami menstruasi dilarang masuk area pura dan tempat-tempat yang dianggap suci
  • Saat berenang di pantai perhatikan bendera larangan, karena arus bisa saja sangat deras dan berbahaya, berenanglah diantara bendera kuning dan merah
  • Pakailah pakain yang sopan dan gunakan sarung dan selendang pada saat masuk areal pura
  • Jangan berjalan di depan orang yang sedang sembahyang
  • Jangan memotret menggunakan flash/ blitz saat di depan orang yang sedang bersembahyang dan pendeta yang sedang memimpin persembahyangang
  • Di depan toko/ artshop sering ditemukan canang, kalau sedang berjalan, hindari agar tidak menginjaknya, kalau tanpa sengaja cukup berkata ‘maaf’.
  • Jika saat berjalan-jalan dan bertemu arak-arakan / prosesi upacara, jangan membunyikan klakson berlebihan
  • Jika dalam pertengahan jalan, kebelet kencing, jika harus melakukanya bilang ‘permisi’dan hindari pohon yang diikat dengan kain atau tempat sesajennya, karena masyarakat Bali percaya adanya dunia lain dan tetap menjaga keharmonisan tersebut.
  • Untuk sekedar keamanan jangan menaruh barang-barang penting di mobil ataupun di bawah sadel motor.