Singapura adalah negara kecil di sebuah pulau kecil Tetapi dengan penduduk Lebih dari lima juta orang menjadikan Singapura menjadi sebuah kota yang cukup ramai. Bahkan sebenarnya, Singapura adalah negara paling padat penduduknya di dunia setelah Monaco. Namun, tidak seperti banyak negara lain dengan penduduk yang padat, lebih dari 50% wilayah Singapura ditutupi tanaman hijau dengan lebih dari 50 taman kota dan 4 cagar alam.

singapura marina bay

Selain terkenal dengan penghijauannya, Singapura juga terkenal dengan penegakan hukumnya. The World Justice Project’s Rule of Law Index menempatkan Singapura di peringkat teratas sebagai negara dengan keteraturan dan keamanan. Singapura juga ditempatkan di peringkat teratas sebagai negara bebas korupsi dan negara yang menerapkan peradilan pidana paling efektif. Namun, negara ini memiliki nilai rendah untuk kebebasan berkumpul dan berbicara. Di Singapura, semua pertemuan umum yang melibatkan lima orang atau lebih memerlukan izin dari pihak kepolisian, dan demonstrasi hanya bisa dilakukan di tempat yang sudah disediakan di Speakers’ Corner, sebuah daerah yang terletak di Hong Lim Park. Semua nilai plus dan minus Singapura tentu semakin menarik orang untuk datang ke negeri singa ini.

SEJARAH SINGAPURA

Awalnya didirikan sebagai pemukiman perdagangan Inggris pada 1819, Singapura mencapai kemerdekaan pada 1965. Sejarah Singapura membentang sejak abad kedua ketika pertama kali pulau tersebut munculdi peta terkenal, Geographia. Selama seribu tahun berikutnya, pulau ini menjalin hubungan erat dengan kerajaan Hindu di Sumatra dan Jawa. Walau begitu hampir tidak ada tulisan apa-apa tentang pulau ini. Pulau Singapura “munculkembali”pada abad ke-14 dengan ñamaTemasek atau Kota Laut. Identitas baru ini segera berubah ketika

Baca Juga:  Tujuh Zona bermain di Universal Studio Singapura

seorang raja dari Sumatra, Sang Nila Utama, melihat apa yang dia pikir sebagai singa di pantai Temasek dan muncullah kata “singapura”. Dalam bahasa Sansekerta “singa” berarti singa dan “pura” berarti kota.

Pada awal abad ke-19, Inggris sedang mencari tempat perdagangan di wilayah tersebut untuk mengimbangi pengaruh Belanda. Di bawah kepemimpinan Sir Stamford Raffles, seorang administrator kolonial terkemuka, mereka resmi mendirikan satu kampung perdagangan di pantai Singapura pada 6 Februari 1819. Setelah Raffles mendirikan sebuah pelabuhan bebas dan koloni baru, para pedagang dari seluruh Asia, Timur Tengah, dan Eropa mulai tertarik dengan pulau tersebut. Dalam lima tahun saja, jumlah penduduk pulau tersebut tumbuh dari 150 menjadi 10.000 yang terdiri terutama dari etnis China, Melayu, dan India-yang terus menjadi tiga kelompok etnis utama di Singapura sampai hari ini.

Ketika Terusan Suez dibuka pada 1869, perdagangan meningkat tajam antara Singapura dan Barat, membuat pulau ini menjadi sangat makmur. Kemakmuran ini naik tak terkendali sampai Perang Dunia II meletus dan Singapura jatuh ke tangan Jepang. Setelah tiga tahun masa pendudukan Jepang, gejolak nasionalisme bangkit dan keinginan untuk merdeka dari Inggris semakin bulat. Singapura pun memperoleh pemerintahan sendiri pada 1957. Pada 1959, Lee Kuan Yew dari Partai Aksi Rakyat memperoleh mayoritas kursi dan memutuskan untuk bergabung dengan Federasi Melayu untuk membentuk Malaysia pada 1963.

Baca Juga:  Visa, Imigrasi dan Izin tinggal untuk liburan ke Singapura

Namun, hal ini hanya berlangsung dua tahun. Pada 9 Agustus 1965, Malaysia resmi mengeluarkan Singapura dari federasi karena memandang perbedaan ras sebagai ancaman bagi dominasi Melayu, apalagi setetah terjadi ketegangan rasial yang berujung kerusuhan antar warga. Selain itu, keinginan Lee Kuan Yew untuk mendapatkan kesempatan yang sama bagi anggota partainya untuk masuk dalam pemerintahan Malaysia ditolak mentah-mentah oleh Malaysia. Sejak itu Singapura menjadi bangsa yang sepenuhnya independen. Pulau ini pun merdeka pada 9 Agustus 1965 dan menjadi satu-satunya negara yang memperoleh kemerdekaan tanpa kehendak sendiri dalam sejarah dunia modern.

Terpisah dari Malaysia, Lee Kuan Yew memimpin Singapura dengan sangat keras melalui beberapa ke- bijakan seperti pengendalian populasi, peniadaan partai oposisi,sampai aturan denda yang sangat ketat. Bahkan, Singapura menjadi negara yang memiliki peraturan aneh yang menganggap permen karet sebagai barang ilegal karena dianggap sebagai sumber masalah dari rusaknya fasilitas umum.

Singapura kini berubah dari sebuah negara yang mengandalkan ekonomi pedesaan dan manufaktur menjadi negara yang mengandalkan knowledge based. Hari ini, peringkat Singapura di antara kota-kota paling layak huni di dunia terus merangkak naik. Orang- orang dari seluruh dunia pun tertarik mengunjungi Singapura karena adanya kontras yang indah antara kota metropolitan yang dinamis dan modern dengan warisan sejarah yang masih bertahan di sekitarnya.