‘Tempat kuda-kuda indah’, begitulah arti dari Cappadocia (Kapadokya) dalam bahasa Persia. Terletak di daerah Anatolia Tengah, Turki, Cappadocia merupakan area penting dan bahkan menjadi jembatan dalam jalur perdagangan sutra ribuan tahun lalu. Keunikan pemandangan alam atau lanskap di tempat ini membuat UNESCO menjadikan Cappadocia salah satu warisan dunia yang harus dijaga.

“Jalan-jalan ke Turki tapi ngga ke Cappadocia? Waahhh… sayang banget! Pokoknya harus mampir kesana dan menikmati keindahan tempat yang ada di daerah Anatolia Tengah, di Turki ini.”

Kapadokya dengan Goreme sebagai ibu kotanya, dikenal dengan sebutan “Peribacalari Diyari” (The land of Fairy Chimneys). Pada masa kekaisaran agustus dari Romawi, wilayah kuno Kapadokya merupakan kawasan luas yang berbatasan dengan Pegunungan Taurus di selatan, Aksaray di barat, Malatya di timur, dan pantai laut Hitam di utara.

goreme open air museum

Saat ini, kapadokya adalah kawasan yang mencakup Provinsi Nevsehir, Aksaray, Nigde, Kayseri, dan Kirsehir. Sedangkan kawasan berbatu Kapadokya adalah daerah Uchisar, Goreme, Avanos, Urgup, Derinkuyu, Kaymakli, Ihlara, dan sekitarnya.

Ditutupi lava dan abu vulkanik letusan tiga gunung berapi besar di  Erciyes, Hasandag, dan Melendiz jutaan tahun lalu, serta mengalami  empasan cuaca selama puluhan ribu tahun, membuat Cappadocia memiliki struktur tanah yang unik: berbentuk pilar-pilar, gua-gua, bukit-bukit batu yang saling tumpuk, serta bukit berpuncak datar.

Baca Juga:  Sejarah kota kuno Efesus (Ephesus) di Turki yang wajib dikunjungi

Bebatuan ini terbentuk sekitar 10 juta tahun yang lalu, saat beberapa gunung berap di kawasan Kapadokya meletus. Lahar dari gunung berapi ini mengalir ke lembah, beserta dengan abu vulkanik dan batuan gelogi yang dibantu oleh banjir dan angin, dan bersama membentuk suatu formasi batuan menarik yang dapat dilihat sekarang ini. Formasi batuan tersebut berbentuk seperti cerobong, dan karena itu masyarakat setempat menamakannya “peribacalari”.

Jenis-jenis peribacalari yang terbentuk adalah bertopi, kerucut, berbentuk jamur, berbentuk tiang dan batu-batu runcing. Peribacalari yang lebih pada terdapat di segitiga Lembah Avalos-Uchisar-Urgup. Selain di segitiga tersebut, formasi peribacalari menarik lainnya juga dapat dilihat di lembah-lembah Uchisar, Cavusin, Gulludere, Goreme, Meskendir, Ortahisar Kizilcukur, dan Pancarli.

peribacalari

Meski alamnya tampak kering dan kurang bersahabat, Kapadokya ternyata bisa ditinggali oleh manusia. Kehidupan manusia di Cappadocia dimulai sejak peradaban Assyrian. Konon, masyarakat zaman itu pemikirannya sudah amat maju. Terbukti dengan ditemukannya peninggalan dari masa itu yang dikenal dengan Prasasti Cappadocia, yang ditulis dalam bahasa Assyrian kuno. Prasasti ini menunjukkan kemajuan perdagangan mereka, dengan adanya naskah kuno yang berisi metode pajak, tingkat bunga, hingga kontrak pernikahan.

Terletak di jalur utama silk road membuat Cappadocia menjadi tempat bertemunya banyak kebudayaan, filosofi, dan budaya. Bahkan, pada abad ke-2 setelah Masehi, umat Nasrani yang pertama menetap di sekitar Derinkuyu, salah satu kota di Cappadocia. Mereka pindah ke sini karena adanya tekanan dari Kerajaan Romawi di daerahnya. Di Cappadocia mereka diperbolehkan melubangi batu-batu untuk dijadikan hunian, membangun toko makanan, kincir air, penampungan air, hingga mengembangkan habitat untuk jangka waktu lama.  

Baca Juga:  Tersesat di Grand Bazaar Istanbul, Pasar Tertua yang Megah di Turki
kappadokya, turki

 Memang daerah ini menyediakan banyak hal bagi mereka yang ingin mencari kedamaian. Tak mengherankan,  begitu banyak yang dikembangkan untuk menunjang kehidupan mereka. Sistem ventilasi, saluran air, keamanan, sumur, hingga sistem pengumpulan sampah membuat  turis terkagum-kagum. Bahkan, dulu di Cappadocia dapat ditemukan lebih dari seribu gereja, yang memiliki konstruksi dan dekorasi amat indah. Hingga kini lukisan dan hiasan masih bisa kita nikmati di dinding gereja batu.

Cappadocia juga terkenal sebagai penghasil keramik yang indah. Sejarah keramik di Cappadocia dikembangkan oleh suku Hittite yang mendapatkan pengetahuannya dari suku Assyria dari Mesopotamia (sekarang Irak Utara), sekitar 2000 SM.

Begitulah sejarah singkat daerah yang sungguh indah di Turki ini. Sayang jika Traveller ke turki dan tidak mampir di Kapadokya.